02 Maret 2010
Dari Sampah Bisa Beromset Milyaran Rupiah
Hidayat yang dulu sempat berbisnis sebagai pemasok produk pertanian, kini menjalankan usaha mengelola sampah. Jika kita dengar kata “ sampah “ yang muncul di dalam pikiran kita pasti sesuatu yang kotor dan menjijikan, tapi ditangan Hidayat sampah bisa mendatangkan keuntungan yang berlipat. Hidayat berhasil menjadi pengusaha pengelola sampah dan menghasilkan beberapa produk yang siap jual ( pupuk organik dan biomassa), karena lewat PT. Mitra Tani Mandiri Perdana atau biasa disebut Mittran. Mittran sendiri sudah lama bergelut di dalam produk pertanian ini, seperti pupuk dan pestisida, alat-alat pertanian, macam-macam benih, kursus usaha agribisnis, berbagai jenis mesin pertanian, dll.
Latar belakang Hidayat sangat berbanding terbalik dengan apa yang dijalaninya sekarang. Besar dalam didikan keluarga tentara dan ibu yang bekerja sebagai guru, menuntut Hidayat sebagai anak tunggal untuk mempunyai karir yang bagus dan masa depan yang cerah. Hidayat dari kecil memang menyukai dunia pertanian, namun harus mengalah untuk kuliah di dunia ekonomi yang menurut orangtuanya mempunyai masa depan yang cerah. Hidayat menemukan satu kombinasi yang unik, karena dua ilmu pengetahuan yang dimilikinya ( pertanian dan ekonomi ). “ Intinya, saya bukan tipe orang yang biasa disuruh-suruh “,ujarnya saat di wawancara. Ia punya kesimpulan, ada satu faktor lagi di dunia pertanian yang bisa membuat lebih berkembang selain budidaya, yaitu nilai bisnis yang belum tergali. “ Inilah yang membuat saya terjun di dunia ini ”, katanya.
Setelah tamat kuliah tahun 1992, Hidayat dan Boyke Abidin mendirikan Mittran dengan modal Rp. 20.000.000,-. Waktu itu, Mittran bisa menghasilkan omset milyaran rupiah tiap tahunnya. Hidayat juga sempat mencoba berbisnis di bunga krisan yang pernah menjadi tanaman hias yang banyak dicari orang. Ia bisa memiliki sekitar 30 sampai 40 toko bunga yang tersebar di berbagai pusat perbelanjaan Jakarta. Namun pada kerusuhan 1998 di Jakarta, membuat semua toko bunga yang sudah dirintisnya selama 10 tahun tersebut porak-poranda. Tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut dan keadaan pun semakin sulit dengan daya beli masyarakat yang rendah.
Hidayat tidak putus asa, kini ia mulai beralih menjadi pemasok mesin pertanian. “ Bisnis bunga krisan sudah berlalu, bisnis distribusi komoditas pertanian pun marginnya tipis “, ujar Hidayat. Tahun 2002, Hidayat mencoba membuat sendiri mesin pertaniannya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ia merasa harus mengambil satu spesialisasi dalam membuat mesin pertanian agar lebih fokus. Akhirnya, Hidayat memilih mesin pengelola sampah. “ Ini bahan baku yang murah untuk bikin mesin pembuat pupuk “, alsan Hidayat. Hidayat melihat masalah sampah kini sudah menjadi masalah pelik dalam tingkat nasional, artinya sekarang sampah sebagai bahan baku berlimpah.Setelah ia belajar secara otodidak, ia berhasil menciptakan mesin pengolah sampah yang diberi nama Simaster ( Sistem Pengolah Sampah Terpadu ). Keunggulan dari Simaster ini adalah bisa menghasilkan bahan baku pembuat pupuk organik, selain mengolah sampah. Dulu Hidayat membeli bahan baku sampah dari masyarakat, tapi kemudian tercetus ide untuk jadi pebisnis sampah dari hulu ke hilir.
Hidayat juga menawarkan paket program pembelian mesin pengolah sampah, dimana si pembeli akan diberi pelatihan mengolah sampah dengan benar dan bisa menghasilkan pendapatan dari sampah lewat bahan baku pupuk organik. Beragamnya paket pelayanan bisa menghasilkan omset untuk Mittran. Dari layanan petugas kebersihan, Hidayat bisa mendapatkan penghasilan Rp. 90.000.000,- / bulan dan dari penjualan mesin pengolah sampah bisa beromset Rp. 300.000.000,- / bulan. Belum lagi ditambah dengan penjualan pupuk organik dan biomassa, ia bisa beromset sekitar Rp. 50.000.000,- sampai Rp. 60.000.000,- / bulan.
Jadi tukang sampah yang bisa beromset milyaran rupiah merupakan pilihan hidup Hidayat. “ Sudah nasib “, kata Hidayat yang punya cita-cita jadi ahli pertanian.
Sumber : KONTAN Minggu II, Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar